Selasa, 17 Februari 2009

Unsur Kimia dalam Baterai Handphone

Kimia Dalam Baterai Handphone


Di era globalisasi sekarang ini, Handphone (Hp) sudah merupakan salah satu unsur kebutuhan pokok. Bagaimana tidak, kita lihat dalam kehidupan sehari – hari, baik dari kalangan bawah sampai kalangan atas, dari siswa SD sampai Perguruan tinggi semua sudah memiliki Hp dan setiap minggu atau setiap bulannya pasti menyediakan anggaran lebih untuk pembelian pulsa agar Hp itu dapat aktif.
Namun sebagian besar dari kalangan masyarakat itu hanya dapat menggunakan dalam pemakaian Hp saja, dan sebagian kecil yang memahami apa saja komponen yang terkandung dalam Hp tersebut, dan apabila kita pernah mendengar ada Hp yang meledak atau konsleting tidak terpikirkan apa penyebab terjadinya masalah tersebut.
Dalam uraian ini akan dijelaskan bagaimana sebuah baterai seukuran kotak korek api dalam sebuah Hp bisa meledak layaknya sebuah bom. Sebagian besar gadget modern termasuk ponsel menggunakan baterai lithium ion. Dijuluki baterai lithium ion karena tenaga baterai ini berasal dari aliran ion-ion lithium (Li+) di dalam larutan elektrolit. Sewaktu baterai kita charge, ion lithium mengalir dari katoda (kutub positif) ke anoda (kutub negatif). Sebaliknya, ion lithium mengalir dari anoda ke katoda ketika baterai bekerja.
Elektrolit, anoda, dan katoda dikemas dalam sebuah kontainer bertekanan. Selapis separator memisahkan anoda dan katoda agar keduanya tidak saling bersinggungan. Separator itu terbuat dari plastik super tipis dengan lubang-lubang mikro yang hanya cukup dilewati ion lithium. Nah, masalahnya bermula ketika baterai diproduksi di pabrik. Ada kotoran berupa butir-butir logam yang masuk ke larutan elektrolit. Tidak banyak memang, tetapi bisa menyebabkan malapetaka.
Pada saat charging, suhu baterai bertambah. Butiran logam akan berlarian kesana kesini, mirip dengan butiran beras dalam air yang diaduk. Jika berada di dekat separator, butir-butir logam itu bisa merobek separator. Alhasil, terjadilah hubungan pendek alias korsleting antara anoda dan katoda. Peristiwa selanjutnya mudah ditebak.
Korsleting membuat arus listrik mengalir sangat cepat. Suhu dan tekanan di dalam baterai akan meningkat drastis. Ledakan pun tak terhindarkan. Korsleting juga sanggup memercikkan bunga api layaknya pemantik. Kontan saja garam lithium yang memang mudah terbakar itu menyala hebat. Bayangkan saja, energi yang bisa membuat ponsel menyala berhari-hari itu lepas dalam sekejap.
Baterai lithium ion sekarang mesti bekerja lebih berat. Kapasitasnya dituntut makin besar, tapi ukurannya tidak boleh menggembung. Mau tak mau, pabrik baterai memakai separator yang lebih tipis dan lebih mudah bocor.
Beberapa pabrik baterai non-standar nekad menghilangkan pemutus arus demi menekan harga. Tanpa alat kecil itu, baterai tetap teraliri arus meski sudah terisi penuh. Terjadilah apa yang disebut overheat atau panas berlebih. Jika sudah begitu, baterai pun berpotensi meledak tiba-tiba. “Booom”.
Oleh karena itu, kepada anda yang mempunyai Hp, sebagai sarana komunikasi cepat yang dapat dibawa kemana – mana, hendaklah berhati – hati jangan melakukan charging terlalu lama, lakukanlah pengisian sesuai waktunya, apabila telah penuh, segera dihentikan supaya kita terhindar dari malapetaka ledakan Hp, karena komponen yang ada dalam Hp itu tidak saja terdiri dari unsur besi, plastik, dan kaca, tetapi juga ada unsur kimianya.

2 komentar:

Hamdi Reza mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

tau dari mana ?